Preliminary FGD membentuk interfaith modelling bagi keluarga HFI
Sebagai salah satu main core yang ada di dalam Humanitarian Forum Indonesia (HFI) yaitu mendiseminasi nilai-nilai kemanusiaan, HFI berupaya untuk menginisiasi kerjasama lintas agama (interfaith) sebagaimana yang telah dilakukan oleh keluarga besar HFI, terutama ketika turun ke lapangan menangani bencana.
Banyaknya perhatian dunia terhadap kerjasama interfaith yang dilakukan HFI dan kondisi interfaith yang terjadi di Indonesia, sebagai contoh HFI pernah menerima permintaan kunjungan untuk berdiskusi dari Universitas di Jepang, Amerika dan Caritas Perancis, membuat HFI untuk mencoba membentuk modeling interfaith di Indonesia. Hal ini sudah pernah didiskusikan secara serius ketika HFI mengadakan Rapat Umum Tahunan 2011. Modelling ini rencananya akan dibukukan untuk menjadi pembelajaran bagi lembaga-lembaga kemanusiaan dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.
Pada hari Selasa, 5 Juli 2011 HFI mengadakan pertemuan di antara anggota. Pertemuan yang merupakan Preliminary FGD ini bertempat di Ruang Pertemuan Lt.3 Kantor KARINA Jl. Matraman No.31 Jakarta Timur pada pukul 13.20-15.20 WIB, dan difasilitasi oleh Jonathan Victor Rembeth. Sebanyak 10 orang hadir yaitu Romo Sigit Pramudji dan Dian Lestariningsih dari KARINA, Akbar dari PKPU, Adi Suryadini dan Suryadi dari World Vision Indonesia, Chia dari ACE/PPKM, Syamsul Ardiansyah dari Yakkum, dan Surya RM, Apri Sulistyo dan Dear Sinandang dari Sekretariat HFI.
FGD ini dimaksud untuk menjajaki kemungkinan dalam penyusunan modeling interfaith bagi keluarga HFI. Berlanjut atau tidaknya program penyusunan modeling interfaith ini akan diputuskan dalam pertemuan ini. Selain itu, FGD ini juga sebagai langkah awal mengumpulkan gagasan dan pijakan ide tentang interfaith dan menyusun kerangka-kerangkanya.
Mengawali diskusi, Victor Rembeth mengungkapkan bahwa sebetulnya konsep keberagaman Indonesia dalam konteks bencana bisa dilihat dari dua hal yakni kerentanan dan kapasitas. Menurutnya, aspek agama bisa menjadi kerentanan yang bersifat rapuh, sehingga bisa dengan mudah dipatahkan. Tapi di sisi lain, imbuhnya, agama bisa juga sebagai kapasitas/resilience yang kelentingannya sebenarnya bisa mematahkan kerentanan, baik internal maupun eksternal agama itu sendiri.
Hal mendasar yang menjadi sorotan dari tokoh HFI ini adalah tentang posisi dari HFI sebagai forum bagi lembaga-lembaga berbasis agama adalah tentang ide kereligiusannya. Menurutnya, gagasan tentang interfaith atau dasar keagamaan yang menjadi basis atau landasan operasional masing-masing lembaga HFI tidak boleh dihilangkan bahkan sebaliknya menurutnya hal itu adalah hal fundamental keberadaan forum ini. “Itulah yang membedakan forum ini dengan lembaga “sekuler” yakni ide tentang kereligiusan,” tegasnya. Oleh karena itu,lanjutnya, HFI adalah forum yang menjadi wahana praksis bagi semua ideologi keagamaan dalam kemanusiaan bagi semua organisasi anggotanya. Semua idelogi agama tentang kebaikan bertemu dalam tindakan praksis pada suatu titik atau “common ground” dalam sebuah karya bagi kemanusiaan, di sinilah tempatnya HFI.
Dalam kesempatan itu, beberapa peserta mengungkapkan beberapa pengalaman mereka tentang interfaith di lapangan. Suryadi dari World Vision Indonesia dalam forum tersebut menuturkan pengalamannya selama bekerja di Gempa Pangalengan. Menurutnya, ada beberapa orang yang mencoba menghasut masyarakat supaya tidak menerima bantuan karena bantuan itu membuat kita jadi non-muslim. “Namun mereka menerima kita apa adanya dan semuanya baik-baik saja. Saya ingin interfaith ini juga merupakan upaya ketahanan bangsa juga” ujarnya.
Sementara Akbar dari PKPU juga menyampaikan fakta menarik tentang kisah PKPU selama bekerja di Mentawai yang berhubungan dengan persoalan interfaith. “PKPU membangun shelter yang akhirnya jadi gereja, namun kelompok gerejanya malah menolak karena didirikan oleh kelompok islam, namun akhirnya juga terjadi saling pengertian” ujarnya.
Masuk dalam pembahasan bagaimana interfaith ini akan dibukukan, Romo Sigit jika buku ini nantinya harus bersifat keindonesiaan yang sangat kuat. “Ada pencarian jati diri Indonesia masuk pengantar. Semuanya ketika disandarkan kepada perspektif politik, kecuali UUD 1945 yang melibatkan seluruh masyarakat. Usulan saya judulnya kira-kira seperti ini, membangun Indonesia baru melalui bencana,” ujarnya.
Menimpali hal tersebut, Victor rembeth menjelaskan arahan penulisan buku interfaith ini adalah:

Ideologi agama kemanusiaan
tanggungjawab
keindonesiaa
Praxis strategi plan
Good practices kasus merapi, kasus mentawai, wasior dll
Menurut Victor, dalam buku ini nantinya lebih baik berisi bunga rampai yang isinya ditulis tim dan akan ada orang yang merangkainya. Pendanaan buku ini akan dikerjakan bersama, tinggal dibuat draft budgetnya dan bisa juga mengajak teman-teman yang lain. Sebisa mungkin peluncuran buku modeling ini bertepatan dengan meeting HFI International, lalu merancang workplannya. Semua communication officer dari setiap lembaga dapat menulis hal tersebut, tidak perlu merekrut orang baru. Idealnya ada FGD lagi yang lebih kepada instruksi atau juklak untuk semua communication officer bisa duduk bersama untuk mendiskusikan tata tulis dan output-outputnya sehingga bisa diseragamkan. Misalnya 12-15 halaman untuk setiap organisasi, dan ditambah dengan foto.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah:
- TOR besar
- Budget
- Tanggal pelaksanaan launching (konfirmasi kapan meeting HF International)
- Workplan
- Penulis (utama, dan organisasi)
- Teknis launching












Representatives from HFI members were sharing lesson learn from interfaith partnership experiences to each other in disaster cases that had been handled, such as the cases of Merapi’s eruption in Jogja, earthquake in Padang, tsunami in Mentawai, flash flood in Wasior, etc. Participants were also sharing opinions about the face of interfaith in Indonesia, whereas interfaith values actually have already existed since a long ago, because Indonesia owns its various complexities, not only from its culture, but also its faiths of its society.
Robert Sellers, Ph.D dari Hardin-Simmons University Texas, USA dengan ditemani oleh Jonathan Victor Rembeth berkunjung ke kantor Sekretariat HFI. Beliau bermaksud untuk berdiskusi mengenai kondisi interfaith di Indonesia. Diskusi ini nantinya akan menjadi tulisannya dalam bentuk jurnal ilmiah tentang Interfaith dalam Action Dialog.








